Sabtu, 18 Mei 2019

Menelusuri Islam Pertama di Indonesia

 

Agus Salim menarik sarung bermotif kotak-kotak biru yang tersampir di pundaknya. Pria hampir separuh baya asal Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara tersebut segera memakai sarung itu menutupi celana panjang jeans birunya yang sudah sobek di kedua lutut. Sesekali ia menengok ratusan anak tangga yang menjulang tinggi di depannya.
Setelah meletakkan peci hitam di atas kepalanya, Agus melangkahkan kaki ke anak tangga pertama. "Bismillah," ujarnya mantap. Satu per satu anak tangga ditapakinya. Sesekali tangan kanannya meraih besi pembatas untuk membantu menarik tubuhnya ke atas. Cuaca cerah di pagi itu membuat matahari terasa begitu menyengat. Belum begitu lama berjalan ke atas peluh mulai keluar dari pori-pori kulit dan membasahi pakaiannya.
Kira-kira 10 menit lebih perjalanan dari bawah, Agus memutuskan beristirahat di sebuah pondok kecil. Tempat peristirahatan pertama itu kira-kira masih sepertiga perjalanan untuk sampai ke tujuan. Sambil mengatur nafasnya yang berkejaran, dari ketinggian sekitar 100 meter di atas permukaan laut matanya menyapu kota Barus, Tapanuli Tengah yang terletak di bibir pantai Samudra Hindia. "Saya meniatkan datang ke Barus dan naik ke makam Papan Tinggi ini. Mumpung masih kuat," katanya.
Agus salah seorang peziarah yang mendatangi pemakaman Papan Tinggi yang berlokasi di desa Pananggahan, Kecamatan Barus Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah. Sebuah kompleks pemakaman yang terletak di puncak sebuah bukit dengan ketinggian sekitar 200 meter dpl. Untuk sampai ke puncak itu setiap peziarah harus meniti sebanyak hampir 800 anak tangga.


Kompleks Makam Papan Tinggi di Barus, Sumatera Utara
Foto : Gusti Ramadhan/Detik.com

Ada tujuh makam yang terletak di kompleks pemakaman itu. Tapi ada satu makam yang tampak sangat berbeda dengan bentuk makam-makam pada umumnya. Jarak batu nisan antara kepala dan kaki mencapai hampir 9 meter. Tinggi kedua batu nisan mencapai sekitar 1,2 meter. Makam ini jadi tujuan utama banyak orang yang datang dari berbagai kota di Indonesia untuk berziarah kubur.
Tokoh masyarakat Barus, Zuardi Mustafa Simanullang, mengatakan pada nisan makam itu tertulis Syekh Mahmud dari Hadramaut, Yaman. "Wafatnya pada tahun Dal-Mim yang bisa diartikan tahun 44 Hijriah," ujar Zuardi pada detikX. Selain situs Papan Tinggi, terdapat juga situs Mahligai yang kerap didatangi para peziarah. Jaraknya sekitar 3 kilometer dari kompleks Papan Tinggi. Luasnya sekitar tiga hektar dan di sekitarnya terdapat perkebunan karet. Kompleks makam ini terletak di perbukitan.
"Ini menunjukkan bahwa sejak zaman Rasulullah Saw orang-orang Hejaz itu sudah berlayar mengarungi lautan"

Ada sekitar 215 makam yang berada dalam kompleks makam Mahligai. Makam-makam ini tersusun berkelompok. Satu makam yang dinilai paling tua yakni milik Syekh Rukunuddin. Syekh Rukunuddin diyakini berasal dari jazirah Arab. "Kalau Syekh Mahmud pada nisannya tertulis Dal-Mim. Sementara pada nisan Syekh Rukunuddin tertulis Ha-Mim," kata Zuardi. Berdasarkan Ilmu Falak dari kitab Tajul Muluk, Ha-Mim, kata Zuardi, bisa diterjemahkan tahun 48 Hijriah.
Keterangan Zuardi serupa dengan pandangan seorang sejarawan asal Aceh bernama Dada Meuraxa. Dada dalam sebuah seminar bertajuk "Masuknya Islam di Nusantara" yang digelar di Medan pada Maret 1963 meyakini Islam masuk ke Barus pada abad pertama Hijriah. Dasarnya adalah penemuan batu nisan Syekh Rukunuddin yang berada di kompleks pemakaman Mahligai itu. "Masuknya Islam pertama di nusantara itu di Barus," ujar Zuardi yang juga Rais Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama Barus itu.


Para peziarah di kompleks Makam Papan Tinggi, Barus, Sumatera Utara
Foto : Pasti Liberti/Detik.com

Dalam seminar di Medan itu juga, Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka mengajukan teorinya tentang masuknya Islam di Indonesia. Menurut Hamka Islam masuk ke Indonesia langsung dari Arab. Bukan dari India atau Gujarat. "Bukan pula pada abad-abad pertengahan, tapi pada abad ke-6 atau ke-7 (Masehi), yaitu masih dalam zaman Khulafaur Rasyidin," tulis putra Buya Hamka, Rusydi Hamka, dalam buku Buya Hamka : Pribadi dan Martabat.
Kepada Rusydi, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama itu menyebut sumber pendapatnya itu dari buku perjalanan Ibnu Batutah, kisah pengembara China, Cheng Ho dan buku Sir Thomas Arnold. Kemudian beberapa hadis Nabi tentang berwudu dengan air laut. "Ini menunjukkan bahwa sejak zaman Rasulullah Saw orang-orang Hejaz itu sudah berlayar mengarungi lautan," tulis Rusydi.
Buya Hamka juga membacakan Surah Al-Insan ayat 5 pada Rusydi yang terjemahannya Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan akan meminum dari piala yang campurannya ialah kafur. Tafsir kata kafur dalam ayat tersebut ialah kapur barus atau kamper. "Di mana di dunia ini ada kapur barus, kalau bukan di Barus, Sumatra," kata Hamka yang kemudian dikutip putranya. Pemikiran Dada dan Hamka tersebut menimbulkan silang pendapat. Terutama karena arus utama tentang sejarah mula Islam di nusantara didominasi nama Kesultanan Samudra Pasai.
Nama Barus kembali mengemuka saat Presiden Joko Widodo meresmikan Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara pada Maret 2017 lalu. Perdebatan soal sejarah awal Islam nusantara kembali mengemuka. Ketua Umum Jam'iyah Batak Muslim Indonesia (JBMI), Albiner Sitompul mengakui organisasinya yang memberi usulan dan masukan kepada pemerintah. "Usulan kami berdasarkan fakta-fakta sejarah," ujar Albiner kepada detikX.
Albiner menyebut pedagang Arab memasuki Barus sekitar 627-643 M atau sekitar abad pertama Hijriah, dan menyebarkan agama Islam di daerah itu. Albiner juga mengutip pendapat Hamka bahwa ada utusan Khulafaur Rasyidin, bernama Syekh Ismail akan ke Samudera Pasai dan singgah di Barus, sekitar tahun 634 M. "Sejak itu, tercatat bangsa Arab (Islam) mendirikan koloni di Barus," ujar mantan Kepala Biro Pers Istana Presiden itu.

Tugu Titik Nol Islam di Nusantara
Foto : Gusti Ramadhan/Detik.com

Peneliti Balai Arkeologi Sumatera Utara Eri Sudewo memaparkan bacaan batu nisan di Papan Tinggi dan batu nisan Syekh Rukunuddin yang dilakukan Ludvik Kalus, ahli Sejarah Islam dari Universitas Sorbonne Paris. Dari nisan Syekh Rukunuddin yang sekarang tersimpan di museum di Medan Ludvik terbaca tanggal wafat Syekh Rukunuddin pada malam Senin 23 bulan Safar tahun 800 Hijriah. "Atau sekitar abad ke-13 Masehi," ujar Eri kepada detikX.
"Mungkin ada orang Islam dari Timur Tengah dan India yang sudah hadir di sana tetapi tidak menetap lama sehingga komunitasnya tidak begitu tampa"
Sementara untuk nisan di Papan Tinggi, pada batu nisan selatan yang terbuat batu granit terdapat dua sisi dengan bahasa berbeda. Sisi selatan ada teks dalam bahasa Arab yang diantaranya tertulis sepenggal ayat dalam AlQuran "Kullu syai'un halikun illa wajhahu" serta nama Syekh Mahmud. Sementara pada sisi selatan terdapat teks bahasa Persia yang berisi sajak. Batu nisan sebelah utara, teks pada kedua sisinya dalam bahasa Arab yang isinya terdapat hadist.
Menurut Eri, berdasarkan bacaan terbaru tersebut komunitas Islam yang ada di Barus baru terbentuk paling tua pada akhir abad ke-11 atau awal abad ke-12. "Sebelum itu mungkin ada orang Islam dari Timur Tengah dan India yang sudah hadir di sana tetapi tidak menetap lama sehingga komunitasnya tidak begitu tampak," katanya. "Bukti interaksi dengan Timur Tengah abad ke-9 Masehi itu ada. Ditemukan artefak berupa pecahan gerabah bergelasir dan artefak berbahan kaca. Jika ditinjau dari tipologinya sama persis dengan artefak sejenis di Timur Tengah yang asalnya dari abad ke-9."
Berdasarkan temuan artefak itu, Eri kurang bersepakat jika Barus disebut titik awal peradaban Islam di nusantara. Peradaban membutuhkan komunitas serta sistem pemerintahan yang teratur dan kompleks. "Kalau disebut titik nol kebudayaan Islam di nusantara lebih bisa diterima. Karena beda sekali antara kebudayaan dengan peradaban."

Sumber : Detik.com

Jumat, 10 Mei 2019

JBMI Memprakarsai Ponpes khusus Untuk Suku Anak Dalam

 
JBMI Menerima Zakat, Infaq & Sodaqhoh para Muslimin dan Muslimat Untuk Pembangunan Pondok Pesantren Al Jam'iyatul Fallah di Kab. Tebo - Jambi, yang mana Ponpes ini khusus untuk Suku Anak Dalam.

Minggu, 20 Januari 2019

1 Juta Warga dan Ulama Tarekat di Karawang sambut Jokowi

 
JBMINews, Jakarta - Dari Garut, Presiden Joko Widodo melakukan perjalanan darat menuju Karawang, Jawa Barat. Tiba di Karawang, Jokowi menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Al Baghdadi.

Jokowi tiba di Pondok Pesantren Al Baghdadi, Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat, Sabtu (19/1/2019) pukul 22.30 WIB. Acara yang dihadiri yakni peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul Syekh Abdul Qodir Al Jaelani.

Begitu tiba, Jokowi langsung disambut pengasuh Pondok Pesantren Al Baghdadi yakni KH Junaedi Al Baghdadi. Jokowi kemudian langsung diajak ke panggung acara.
Di hadapan panggung sudah berkumpul puluhan ribu jamaah. Kehadiran Jokowi juga disambut dengan lantunan shalawat Nabi Muhammad SAW.

Dalam sambutannya, Jokowi mengatakan sudah tak asing lagi dengan Ponpes Al Baghdadi dan jemaah Manaqib. Bahkan dia sudah 7 kali bertemu KH Jaelani Al Baghdadi.

"Ini adalah kunjungan saya yang ketujuh. Meskipun yang ketemu dengan bapak ibu dan saudara sekalian adalah yang kedua atau ketiga. Sebab itu saya sangat bahagia malam hari ini bisa ketemu kembali. Ketemu, dan saya berharap masih bisa ketemu kembali," kata Jokowi.

Informasi yang dihimpun, jumlah jemaah yang hadir lebih kurang sekitar 900 ribu, hampir 1 Juta. Mereka tidak hanya berasal dari Karawang, tetapi juga dari berbagai wilayah lain di Indonesia.

"Saya datang berbis-bisa bersama jemaah lain dari Lampung. Kita datang karena memang perasaan sudah seperti saudara sendiri yang kuat," kata Ana Riana yang juga mengaku mendapatkan amanat dari KH Jaelani Al Baghdadi untuk membuka cabang Ponpes Al Baghdadi di Lampung Timur.

Minggu, 13 Januari 2019

Jokowi: Setelah Infrastruktur, Kita Bangun SDM Indonesia

Jakarta - Calon presiden nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi) berjanji akan membawa Indonesia membangun sumber daya manusia (SDM) di periode kedua kepemimpinannya apabila terpilih lagi di Pilpres 2019.
Hal itu disampaikannya di hadapan belasan ribu alumni Universitas Indonesia (UI) yang memadati Plaza Tenggara, Kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (12/1/2019).
"Setelah pembangunan infrastruktur, kita masuk ke pembangunan SDM," kata Jokowi yang disambut teriakan oleh para peserta acara.
Di acara itu, hadir sejumlah petinggi seperti Puan Maharani, Pramono Anung, Ketua TKN Erick Thohir, dan Ketua TKD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi.
Diingatkan Jokowi, di lima tahun pertama pemerintahannya, dia telah membawa Indonesia membangun infrastruktur. Bukan hanya sekedar infrastruktur besar seperti jalan tol, bendungan, jembatan, dan bandara. N
amun juga infrastruktur kecil di pedesaan.
Dijelaskannya, pada 2015, Dana Desa digelontorkan Rp 20 triliun. Setiap tahun mengalami peningkatan dan pada 2019 menjadi Rp 73 triliun. Hitungan dia, ada Rp 257 triliun total Dana Desa yang digelontorkan ke ribuan desa di Indonesia sejak dia memerintah.
"Kalau Anda pergi ke desa, itu jadi barang. Seingat saya ada 108.000 kilometer jalan desa dikerjakan dari Dana Desa, 6900 pasar kecil-kecil di desa, dan pembangunan yang lain. Artinya, infrastruktur itu juga ada di desa, bukan sekedar tol di Pulau Jawa yang sudah dibuka," beber Jokowi.
Di luar itu, untuk masyarakat kurang mampu, ada Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP). Ada 96 juta masyarakat yang gratis iuran KIP sehingga bisa mendapat pelayanan kesehatan gratis di Puskesmas dan rumah sakit.
Untuk KIP, ada 19 juta anak-anak kurang mampu diberikan bantuan agar bisa sekolah. Ada lagi Program Keluarga Harapan (PKH), yang diberikan ke 10 juta kepala keluarga pada tahun ini.
"PKH bisa digunakan baik untuk memulai usaha-usaha supermikro, maupun pendidikan dan kesehatan keluarga. Ada yang menerima Rp1,8 juta, Rp3,6 juta, Rp3,8 juta, tergantung kondisi keluarganya," jelas Jokowi

Jumat, 09 November 2018

Selamat Hari Pahlawan 2018 " Semangat Pahlawan di Dadaku "


Dewan Pimpinan Pusat Jam'iyah Batak Muslim Indonesia (DPP JBMI) Mengucapkan Selamat Peringatan Hari Pahlawan 10 November 2018
" Bangsa yang besar adalah Bangsa yang mengenang Jasa Para Pahlawan - Pahlawannya"

Selasa, 30 Oktober 2018

Keluarga Besar JBMI Turut Berduka Cita Atas Jatuhnya Pesawat Lion Air JT 610 Rute Jakarta - Pangkal Pinang


Turut Berduka Cita Atas Jatuhnya Pesawat Lion Air JT 610 Rute Jakarta - Pangkal Pinang
Pada Hari Senin, 29 Oktober 2018
Semoga Seluruh Korban Diterima Disisi Allah SWT dan Ditempatkan di Surga Jannatun Naim
Serta Diberikan Ketabahan dan Kesabaran Kepada Seluruh Kerabat dan Keluarga Yang Ditinggalkan















Rabu, 24 Oktober 2018

Ahli Waris Ngadu ke JBMI, Gegara PT.Summarecon Ingkar Janji Puluhan Tahun

Jbmi-News : Haji Makawi bin H. Abdul Halim bin H. Ali (50 tahun), pemilik sebidang tanah di Kampung Rawa Gatel, Kelurahan Pegangsaan Dua, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, DKI Jakarta, akhirnya mendatangi Pengurus Pusat Jam’iyah Batak Muslim Indonesia (JBMI) di Jl. Duyung III No. 11A, Kelurahan Jati, Pulo Gadung, Jakarta Timur, dalam rangka menyampaikan keluh-kesahnya terkait penyelesaian kasus penyerobotan tanah miliknya oleh PT. Summarecon Agung Tbk, pertengahan September 2018 lalu.
Kedatangan Makawi yang berprofesi sebagai Ustadz atau Penceramah Agama di Jakarta itu disambut oleh Ketua Umum DPP JBMI, H. Albiner Sitompul, S.IP, M.AP bersama beberapa pengurus DPP.
“Sebagai organisasi pelayan umat, kita menyambut baik kedatangan Bapak Ustadz Haji Makawi untuk menjalin silahturahmi dengan JBMI, yang juga ingin menyampaikan persoalan beliau bersama keluarganya yang dizolimi oleh perusahaan kelas gajah, PT. Summarecon Agung Tbk di Jakarta Utara,” kata Albiner yang pernah bertugas di wilayah tersebut sebagai Komandan Batalyon Kostrad TNI belasan tahun lalu.
Dalam penuturannya kepada pewarta media ini dikonfirmasi, Makawi menjelaskan bahwa dirinya merupakan ahli waris atas tanah garapan seluas lebih-kurang 36.408 meter persegi (3,6 HA) di daerah yang saat ini dikenal dengan alamat Jl. Kelapa Nias Raya Blok GN, Jl. Boulevard Raya Blok QA, Kelapa Gading Permai, wilayah RW 12, Kelurahan Kelapa Gading Barat, Kecamatan Kelapa Gading, Kodya Jakarta Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
“Tanah ini merupakan milik ayah saya, almarhum H. Abdul Halim bin H. Ali berdasarkan Girik C No. 1242, persil 896 Blok S.II Kohir: N-2-04-10-01-04-0040 dan Girik C No. 1242, persil 896 Blok S.I Kohir: N-2-04-10-02-03-0060 atas nama ayah saya H. Abdul Halim bin H. Ali, serta Surat Pernyataan Kepemilikan Tanah Garapan tertanggal 3 Maret 1980,” jelas Makawi, Rabu (17 Oktober 2018).
Areal garapan tersebut, lanjut Makawi, dikuasai secara tidak sah alias diserobot oleh PT. Summarecon Agung Tbk sejak 1986, dan membangun apartemen serta fasilitas bisnis lainnya di atas tanah dimaksud.
“Sejak tahun 1986 hingga sekarang tahun 2018 ini, tanah kami tersebut diserobot oleh PT. Summarecon dan membangun beberapa unit apartemen, Sherwood, dan berbagai fasilitas bisnis di atas tanah itu,” imbuh Makawi yang merupakan anak bungsu dari 9 bersaudara itu.
Masih menurut Makawi, pihak PT. Summarecon Agung Tbk mengatakan bahwa mereka berhak atas tanah tersebut dengan jalan membeli dari seseorang bernama Asikin. Ketika dikonfirmasi kepada oknum bernama Asikin, yang bersangkutan berdalih telah membeli tanah dimaksud dari almarhum H. Abidin Halim bin H. Ali pada Februari 1981.
“Bagaimana mungkin Asikin bisa membeli tanah itu dari ayah saya, sedangkan ayah saya itu sudah meninggal pada 11 Agustus 1978, ada surat kematiannya di saya. Ketika ditunjukkan akte kematian ayah saya itu, Asikin tidak bisa bilang apa-apa, surat jual-beli mereka sudah pasti palsu,” tegas Makawi.
Melihat gelagat yang kurang baik dari pihak PT. Summarecon Agung Tbk terhadap klaim tanah milik peninggalan warga Betawi, almarhum H. Abdul Halim bin H. Ali, oleh ahli warisnya itu, Makawi mengaku telah melakukan berbagai upaya, termasuk melaporkan ke DPR RI, ke Polda Metro Jaya, dan bahkan ke Presiden.
Dari catatan dokumen yang ada, hasil rapat penyelesaian sengketa lahan antara ahli waris H. Makawi dengan pihak PT. Summarecon Agung Tbk. bertempat di Ruang Rapat Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria, Pemanfaatan Ruang dan Tanah, Kementerian Agraria dan Tata Ruang Republik Indonesia, yang dihadiri oleh berbagai pihak terkait, baik dari DPR RI, Kementerian ATR, dan Pemda DKI Jakarta, diputuskan bahwa PT. Summarecon Agung Tbk terindikasi melakukan transaksi jual-beli tanah di Kelapa Gading, Jakarta Utara, milik ahli waris, H. Makawi, secara cacad hukum alias illegal. Hal itu berdasarkan fakta bahwa perusahaan pengembang itu menguasai lahan ahli waris berdasarkan dokumen alas hak yang dipalsukan.
Saat ini, H. Makawi yang menjadi pemegang kuasa ahli waris kakak-beradiknya hanya mengharapkan agar PT. Summarecon Agung Tbk segera menyelesaikan masalah ini dengan sebaik-baiknya. Untuk itu, Makawi telah meminta bantuan kepada DPP JBMI membantu memediasi dan/atau melakukan langkah-langkah teknis lainnya agar hak-hak ahli waris dapat dipenuhi dalam waktu yang tidak terlalu lama.
“Kami sudah berjuang sangat lama, melapor ke hamper semua instansi terkait, juga telah bertemu pihak Summarecon beberapa kali, tetapi selalu mengalami kebuntuan. Summarecon terkesan menghindar dari tanggung jawabnya, menyelesaiakn masalah sengketa lahan kami di Kelapa Gading itu,” tutup Makawi dengan mimik kesal. (HWL/Red)

Tapak Ir. H. Joko Widodo dan Tuan Syekh Ibrahim Sitompul

Ketua DPW JBMI Bengkulu Sukriadi Sitompul bersama Ketua Umum JBMI H. Albiner Sitompul JBMINews : Oleh: H. Albiner Sitompul, S.IP, M....