Tampilkan postingan dengan label albiner sitompul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label albiner sitompul. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juli 2020

Tapak Ir. H. Joko Widodo dan Tuan Syekh Ibrahim Sitompul

Ketua DPW JBMI Bengkulu Sukriadi Sitompul bersama Ketua Umum JBMI H. Albiner Sitompul

JBMINews : Oleh: H. Albiner Sitompul, S.IP, M.AP [Ketua Umum DPP Jamiyah Batak Muslim Indonesia

Secara lahiriah, sosok Ir. H. Joko Widodo dengan Tuan Syèkh Ibrahim Sitompul adalah pemimpin yang dipilih oleh rakyat, yang sama-sama mempunyai karismatik, namun berbeda status sosialnya dan sama-sama zuhud terhadap kebendaan dunia, fokus memikirkan kepentingan nasional.
Perbedaannya, mereka dalam dua masa yang berbeda. Ir. H. Joko Widodo pada masa Indonesia Merdeka, Tuan Syèkh Ibrahim Sitompul pada masa Pemerintahan Hindia-Belanda.
Kedua sosok ini, sama-sama melakukan kebijakan yang mempengaruhi dunia internasional, pada masa yang berbeda pula. Penulis pernah merasakan kepemimpinan Presiden Joko Widodo pada saat menjabat Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Kepresidenan (Karo Pers) dan mengamati kebijakannya sampai saat ini, mengutamakan kepentingan persatuan bangsa Indonesia.
Kepemimpinan Tuan Syèkh Ibrahim Sitompul dirasakan oleh penulis dari cerita ibundanya. Dia meninggalkan kemewahan dunia yang diperolehnya dari Pemerintahan Hindia Belanda, kemudian menjadi Tuan Syèkh dan melawan kebijakan Pemerintahan Hindia Belanda untuk kepentingan persatuan Bangsa Indonesia.

Sekembalinya Tuan Syèkh Ibrahim Sitompul tahun 1903, setelah mendalami ilmu tarekat Naqsabandiyyah di Makkah. Tuan Syèkh Ibrahim Sitompul memadukan ilmu tarekat Naqsabandiyyah dengan ilmu ajaran masyarakat Batak Dalihan Na Tolu”, untuk membangun persatuan masyarakat di Kresidenan Tapanuli.

Hal yang sama “Dalihan Na Tolu disampaikan Joko Widodo dalam pengarahannya sebagai  Presiden RI pada acara Silaturahmi Nasional di Kabupaten Mandailing Natal,  Karena itu saya berharap Jamiyah Batak Muslim Indonesia (JBMI) bisa meninjau dan memperkuat penerapan ajaran masyarakat batak Dalihan Na tolu sebagai salah satu perekat keragaman dan keharmonisan suku batak. Saya yakin banyak nilai-nilai luhur budaya Batak sejalan dengan Islam yang Rahmatan Lilalamin.

Kemudian Presiden Ir. H. Joko Widodo menyampaikan. Organisasi Islam seperti JBMI  juga bisa menjadi sumber optimisme masyarakat, sumber penguatan persatuan, sumber penguatan kesatuan bangsa Indonesia. Dengan bersatu maka kita akan dapat terus bekerja menjalankan pemberatan ekonomi yang akan menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Filosofi “Dalihan Na Tolu” seperti tiga tiang sosial manusia yang diikat dengan sebuah perjanjian adat yang sangat berharga dalam kehidupan pomparan Raja Batak, anak, Boru dohot Berena.  Filosofi ini juga bisa diuraikan dengan tiga tungku tempat diletakkannya kuali memasak makanan yang akan diserahkan kepada anak, Boru dohot Berena. Dalihan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah tungku, Na adalah yang,  dan Tolu adalah tiga. Dalihan Na Tolu adalah kebahagiaan diperoleh dari tiga tungku yang menyatukan. Demikian Raja Batak berpesan sebelum meninggalkan anak-anak dan cucu-cucunya untuk mengatur keseimbangan kehidupan ini guna menjaga persatuan, seperti filosofi  Dalihan Na Tolu”.

Tapak Ir. H. Joko Widodo

Sosok Ir. H. Joko Widodo sudah tak asing bagi rakyat Indonesia dan para pejabat tinggi dunia internasional. Literatur tentang figur Presiden ke-7 Republik Indonesia sudah banyak di media. Salah satunya di Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas. Maka, penulis hanya menganalisa bagaimana pria kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, 21 Juni 1961, ini mengalami berbagai cobaan dalam memimpin negeri ini.

Sementara hasil penelusuran di lapangan, dilakukan penulis dalam menyelami tapak dan kehidupan Tuan Syèkh Ibrahim Sitompul di tanah kelahiran serta beberapa tempat yang pernah disinggahinya di daratan Pulau Sumatera, ketika itu. Insya Allah, dalam waktu dekat akan menerbitkan buku tentang Tuan Syèkh Ibrahim Sitompul.

Kebijakan yang diambil seorang pemimpin kadang tak bisa memuaskan semua pihak. Pasti ada pro dan kontra. Penulis memang mulai intens berhubungan dengan Joko Widodo ketika masih menjabat Karo Pers  di masa Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, sekarang sebagai Tenaga Pengkaji Madya Bidang Diplomasi Lemhannas RI.

H.Albiner Sitompul, S.IP, M.AP

Sebelumnya, penulis pernah menduduki jabatan Kepala Penerangan di Kostrad (Komando Strategis Cadangan TNI AD). Jadi, terbiasa berhubungan dengan para jurnalis, dan tentunya mengikuti perkembangan berita-berita aktual di media massa, baik cetak maupun elektronik.

Secara pribadi, penulis melihat dan mengamati bahwa Joko Widodo atau Jokowi sosok yang ramah, sederhana, namun cerdas dan berani mengambil kebijakan tegas untuk kepentingan bangsa dan negara. Penulis meyakini kebijakan yang diambil atau diputuskan Bapak Jokowi untuk kepentingan rakyat, bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Meski bisa saja menimbulkan pro dan kontra.

Lontaran ketidakpuasan, kritikan, bahkan ujaran kebencian dan fitnah terpanah ke Bapak Jokowi di media sosial. Walau sekali-kali dibantahnya, khususnya untuk fitnahan yang tidak mendasar. Bapak Jokowi menjawab semua itu dengan tetap fokus bekerja membangun negeri ini semaksimal mungkin, dengan berbagai kendala yang dihadapinya.

Melihat sosok Jokowi, penulis merasakan kepribadiannya hampir serupa dengan Tuan Syèkh Ibrahim Sitompul yang merupakan seorang Sufi. Jokowi yang sebelumnya seorang pengusaha sukses di bidang meubel, meninggalkan bisnisnya itu setelah menjadi Wali Kota Solo, kemudian terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta, dan mendapat amanah dari rakyat Indonesia melalui Pilpres menjadi Presiden RI periode 2014-2019. Jika bukan kehendak rakyat dan Ridho Tuhan YME, Jokowi tidak akan kembali terpilih menjadi Presiden RI untuk periode kedua (2019-2024).

Penulis haqqul yaqin, kalaupun bukan Jokowi, siapapun yang terpilih sebagai Presiden RI tak lepas dari hantaman badai kritikan, bahkan ujaran-ujaran kebencian dan fitnah. Yang membedakannya, bagaimana pemimpin itu menjawab semua itu, baik dari pihak yang pro maupun kontra.
Tuan Syek Ibrahim Sitompul

Tuan Syèkh Ibrahim Sitompul yang seorang Sufi juga menghadapi hal yang sama seperti dialami Presiden Jokowi. Ia pernah difitnah bahkan di penjara oleh Pemerintah Hindia Belanda ketika dicalonkan sebagai Kepala Nagori  Jangjiangkola (Janjiangkola adalah Nagori dari kerukunan 8 (delapan) huta (desa) yang dirancang oleh 8 (delapan) Raja huta, Raja Oppu Eret Sitompul (Ayah Tuan Syèkh Ibrahim Sitompul) dari Raja Lobu Handis, Raja Alias Sihombing dari Raja Lobu Balimbing, Raja Hepeng Sihombing dari Raja Janjinauli Angkola, Raja Salomo Sihombing dari Raja Lobu Longat, Raja Pandua dari Raja Sait Nihuta, Raja Simson Sitompul dari Raja Lumban Dolok, Raja Esson Hutapea dari Raja Lobu Sipurik-purik, Raja Paet Sarumpaet dari Hutanagodang  bergabung dalam satu perjanjian Nagori). Atas amanah masyarakat dan kehendak Allah SWT, Tuan Syèkh Ibrahim Sitompul tetap terpilih sebagai Kepala Nagori Janjiangkola.

Sebagai tokoh masyarakat dan mempunyai jabatan prestisus, tak membuat Tuan Syèkh Ibrahim Sitompul jumawa. Ia tetap berpenampilan sederhana, bertanggung jawab kepada keluarga dan masyarakat yang dipimpinnya. Hal yang sama terlihat pada diri Presiden Jokowi.
Sebagai putra Batak, Syèkh Ibrahim memegang dan mengaplikasikan nilai-nilai luhur Dalihan Na Tolu. Presiden Jokowi sendiri merasa kagum dengan budaya dan adat istiadat Batak yang beragam, tapi tetap harmonis.

“Dalihan Na Tolu sebagai salah satu perekat keberagaman dan keharmonisan suku Batak. Saya yakin nilai-nilai luhur budaya Batak sejalan dengan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Saya yakin budaya di sini tidak menyukai ujaran kebencian, caci maki yang sering kita lihat di media sosial. Umpatan, fitnah, saling menjelekkan, saling mencela, itu bukan budaya kita. Saya kadang-kadang berfikir, apakah ini didorong infiltrasi asing yang ingin memecah belah kita lewat media sosial. Itu bukan budaya dan karakter bangsa kita yang penuh dengan kesantunan dan  kesopanan, kata Presiden Jokowi saat memberi kata sambutan di acara Silatnas JBMI di Tapanuli Selatan, pada Maret 2017.
Sebelumnya, di hari yang sama, Presiden Jokowi meresmikan Tugu Titik 0 Peradaban Islam Nusantara di Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara, yang digagas oleh Jamiyah Batak Muslim Indonesia (JBMI).

Pada Saat Penelitian di Kabupaten Aceh Utara, Desa Gedung Pasai, Penulis sebagai Ketua Umum JBMI bersama Anggota DPRD Aceh Utara Bapak Terpiadi A. Majid, akan memperkuat Aceh Nanggroe Darussalam sebagai Serambi Mekkah dan memprakarsai pemugaran kompleks makam  Cucu Nabi Muhammad SAW, seorang yang alim, sempurna, mulia dan zuhud, bertakwa serta suci hatinya. Pertama bernama Sayyid ‘Imaduddin ‘Ali Al Husainiy Al Hasaniy (wafat 19 Muharram 827 Hijrah).  Kedua, seorang ulama bernama Sayyid Syarif  Mir Hasan bin Mir ‘Ali Syir Al Abadiy, wafat pada 12 Rabiul Awal 833 Hijrah. Ketiga, seorang wanita mulia yang diyakini juga seorang ahlulbait, berlandaskan gelar Syarifah di pangkal namanya. Sehingga  Aceh dimantapkan sebagai  Serambi Mekkah, karena yang menyebarkan Agama Islam di Aceh adalah keturunan Suku Quraisy yang mulia.

Zaman kolonial Belanda menjajah Indonesia, sekitar tahun 1890-an, di Nagori Janjiangkola, Tapanuli Utara, ada salah satu pemuka agama Islam, yaitu Tuan Syèkh Ibrahim Sitompul. Beliau adalah salah satu pejuang kemerdekaan yang melakukan perlawanan dan aksi politik terhadap penjajah Belanda di tanah Batak.

Ya, di Tapanuli Utara itulah kedua tokoh pemimpin yang Sufi itu bertemu secara bathiniah. Berjuang dan memimpin dengan tujuan yang sama, yaitu menjaga persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dalam situasi dan era yang berbeda.
Bengkulu, 21 Juli 2020

Selasa, 03 September 2019

Ketua Umum JBMI H. Albiner Sitompul Lantik DPW JBMI Riau

Ketua DPW JBMI Riau mengibarkan bendera petakan JBMI selesai diserahkan oleh Ketua Umum JBMI.

JBMINews : Dewan Pimpinan Wilayah Jam'iyah Batak Muslim Indonesia (DPW JBMI) Provinsi Riau untuk masa periode tahun 2019-2024 dilantik langsung oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Jam'iyah Batak Muslim Indonesia (DPP JBMI), H. Albiner Sitompul, SIP,. MAP.

Setelah mengambil Ikrar dan Janji para pimpinan wilayah JBMI yang dilantik, H. Albiner Sitompul menyerahkan bendera petaka Jam'iyah Batak Muslim Indonesia provinsi Riau kepada Ketua DPW JBMI Riau  Indra Pomi Nasution, ST,. MT untuk dikibarkan ke seluruh Kabupaten Kota di Seluruh Provinsi Riau, kemudian dilanjutkan penyerahan Surat Keputusan DPP Tentang Susunan Personalia DPW JBMI Riau oleh Jabaruddin Hasibuan, SH selaku Wakil Sekretaris Jendral DPP JBMI kepada sekretaris DPW JBMI Riau Linda Irdayani untuk dilaksanakan sesuai dengan aturan yang berlaku dan sesuai dengan AD/ART JBMI.

Setelah prosesi pelantikan ketua DPW JBMI Provinsi Riau Memberikan Mandat Kepada DPD Kab. Kota Se- Provinsi Riau.

 Ketua Umum dan DPW JBMI Riau Mengulosi Gubernur dan Wakil Gubernur Riau serta Walikota Pekanbaru

Acara tersebut dilaksanakan di Gedung Daerah Provinsi Riau di Balai Sarindit tepatnya di Jl. Diponegoro, Pekan Baru pada hari Sabtu (31/8/2019). 

Hadir pada acara itu Gubernur Riau Drs. Syamsuar Nasution, M.Si, Wakil Gubernur Riau Brigjend TNI (Purn) H. Edi Natar Nasution, S.IP didampingi Wali Kota Pekan Baru Dr. H. Firdaus Nasution, ST. MT. TNI dan POLRI DPW JBMI Provinsi Sumut DPW JBMI Provinsi Jambi dan belasan DPD JBMI Kab. Kota se- Provinsi Riau. Para Pejabat Daerah Provinsi Riau dan Kota Madya Pekan Baru.

Berikut Nama- nama KSB Dewan Pimpinan Wilayah JBMI Provinsi Riau yang dilantik, yakni:
Dewan Penasehat: Ketua Drs. Syamsuar, Nasution, M.Si., Sekretaris Syafarin Nasution, S.Pdi, M.Ag Dewan Cendikia Dr. H. Firdaus Nasution, ST,. MT. Sekretaris Ir. Maruli Siregar, M.Si dan Dewan Pimpinan Wilayah JBMI Provinsi Riau Ketua Indra Pomi Nasution, ST,. MT Sekretaris Linda Irdayani Nasution Bendahara Hariyanto Harahap, SE. Ummahat Ketua Dr. Tuti Khairani Harahap, S.Sos. M.Si Sekretaris Dra. Nurhafisyah Hasibuan Bendahara Silvi Eriwati Nasution, A. Mae serta Gema (Generasi Muda JBMI) Ketua Muhammad Dahri Pane Sekretaris Naman Damanik, S. Pdi Bendahara Chairuddin Daulay.

Amatan media, acara dimulai pada pukul 09:00 wib oleh protokol dan dimulai dengan pembacaan Ayat Suci Al qur'an, setelah prosesi pelantikan dilaksanakan acara ditutup dengan do'a pada pukul 11:50 wib dan selanjutnya Makan Bersama.

Drs. Syamsuar Nasution, M.Si selaku Gubernur Riau dalam sambutannya, mengatakan, "Saat ini di Pemerintah Riau sedang menggalakkan Ekonomi Syariah, maka JBMI diharapkan dapat bekerjasama dengan pemerintah dan mampu membangun SDM yang dapat membangun perekonomian secara Syariah dan dapat berdaya saing dengan negara luar."

Dr. H. Firdaus Nasution, ST,. MT Wali Kota Pekan Baru, dalam sambutannya menyatakan ada beberapa point yang termaktub di dalam JBMI, yaitu Perbedaan, Persaudaraan, Kebersamaan.

"Mari kita rajut tiga point tersebut dan semoga dengan itu lahir lah pemimpin yang amanah dari tubuh JBMI", imbuhnya. 

Sementara itu Ketua Umum (DPP JBMI)  H. Albiner Sitompul, SIP,.MAP berpesan kepada JBMI agar tidak mengejar materi, namun yakinlah materi akan selalu bersama JBMI jikalau menghargai perbedaan dan mewujudkan  persaudaraan, kebersamaan serta menolak deradikalisme dan intoleran.



PRTS, Tokoh Adat/Marga, Masyarakat, dan Agama Tapanuli Raya Rekomendasikan H. Albiner Sitompul sebagai Menteri



JBMI News : Dewan Pengurus Pusat (DPP) Persadaan Raja Toga Sitompul (PRTS) bersama para tokoh adat/marga, masyarakat, dan agama menilai Ketua Umum Jam'iyah Batak Muslim Indonesia (JBMI), H. Albiner Sitompul, S.IP, M.AP, layak menjadi Menteri di kabinet Pemerintahan Presiden Ir. H. Joko Widodo dan Wakil Presiden KH. Ma'ruf Amin. PRTS akan mengirim surat rekomendasi ke Presiden Joko Widodo dalam jangka waktu dekat ini.

Dukungan kepada Ketua Umum Jam'iyah Batak Muslim Indonesia (JBMI), H. Albiner Sitompul, S.IP, M.AP, sebagai menteri di kabinet Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin periode 2019-2024, terus mengalir. Kali ini dukungan datang dari DPP Persadaan Raja Toga Sitompul (PRTS), para tokoh adat / marga, masyarakat, dan agama kepada Albiner Sitompul, salah satu putra daerah dari Tapanuli, Sumatera Utara.

Dukungan ini terungkap ketika digelar acara Seminar Nasional dan Silaturahmi Tokoh-Tokoh Nasional dengan tema: "Optimalisasi Budaya Dalihan Na Tolu dalam Mendukung Percepatan Destinasi Kawasan Wisata Danau Toba", di Sopo Partukkoan, Tarutung, Tapanuli Utara, Kamis (29/8/2019).

Pernyataan sikap dan dukungan dari tokoh adat/marga Karo kepada Albiner Sitompul sebagai menteri

Kegiatan yang diprakarsai DPP PRTS menghadirkan narasumber Ketua Umum DPP PRTS, Marsda TNI (Purn) Johnny FP Sitompul; Ketum JBMI, H. Albiner Sitompul;  Ketua Umum DPN Gepenta, Brigjen Pol (Purn) Dr. Parasian Simanungkalit SH, MH; dan Tokoh Dalihan Na Tolu, Dr. Henry P. Panggabean, SH, MS. Nampak hadir pula para tokoh adat/marga, masyarakat, dan agama dari Tapanuli Raya, Medan, Jambi, Bengkulu, Jakarta, dan daerah lain di Indonesia. Mereka memberikan semangat dan dukungan kepada Albiner Sitompul sebagai menteri di kabinet pemerintahan Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

 Pernyataan sikap dan dukungan dari tokoh adat/marga Pak Pak Barat dan Dairi kepada Albiner Sitompul sebagai menteri

"Sebagai organisasi sah yang diakui oleh pemerintah dan telah terdaftar dalam Surat Keputusan Kemenkumham dengan No.AHU-0003703.AH.01.07 Tahun 2018,  terpanggil untuk ikut serta berkontribusi dalam pembangunan nasional, secara khusus percepatan pembangunan kawasan destinasi wisata Danau Toba dengan mengadopsi pendekatan nilai-nilai budaya Dalihan Na Tolu," tutur Sekretaris Jenderal DPP PRTS, Subur MP Sitompul, SE, M.Ak, membacakan kesimpulan pada kegiatan di Kamis pagi hingga sore hari tersebut.
Pernyataan sikap dan dukungan dari tokoh adat/marga Tabagsel kepada Albiner Sitompul sebagai menteri

 Pernyataan sikap dan dukungan dari tokoh adat/marga Tobasa dan Samosir kepada Albiner Sitompul sebagai menteri

Disampaikan Subur MP Sitompul, Tapanuli merupakan salah satu bagian pusat peradaban Nusantara yang akan dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata nasional dan internasional. Sehubungan dengan hal tersebut, diyakini adanya beban yang begitu berat dalam mewujudkan mimpi masyarakat Tapanuli sebagai destinasi wisata Danau Toba yang di kemudian hari akan mampu memberikan kontribusi untuk kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia.

  Pernyataan sikap dan dukungan dari tokoh adat/marga Tapteng & Sibolga kepada Albiner Sitompul sebagai menteri

"Maka, atas nama masyarakat Tapanuli menghendaki putra terbaik Tapanuli yang mampu mengemban tugas dan tanggung jawab mulia ini. Sebagaimana hal tersebut,  maka PRTS bersama para tokoh adat, tokoh marga, tokoh masyarakat, dan tokoh agama, serta tokoh pemuda bersepakat untuk merekomendasikan kepada H. Albiner Sitompul, S.IP, M.AP, Ketua Umum Jam'iyah Batak Muslim Indonesia, sebagai salah satu pembantu dalam kabinet Presiden Ir. H. Joko Widodo dan Wakil Presiden Prof. KH. Ma'ruf Amin. Kami meyakini bahwa Bapak H Albiner Sitompul layak dan mampu untuk mengemban amanah dan tugas tersebut," papar Sekjen DPP PRTS Subur MP Sitompul.

DPP PRTS juga akan mengirimkan surat rekomendasi tentang dukungan penuh kepada Albiner Sitompul sebagai menteri kepada Presiden Joko Widodo yang telah ditandatangani oleh Ketua Umum DPP PRTS, Marsda TNI (Purn) Johnny FP Sitompul dan  Sekjen DPP PRTS, Subur MP Sitompul, SE, M.Ak, tertanggal 29 Agustus 2019.

Ketua Umum DPP GEPENTA Brigjend Pol (Purn) Parasian Simanungkalit, MH juga mengungkapkan Dukungan Penuh kepada H. Albiner Sitompul sebagai Menteri di Kabinet Jokowi - Ma'ruf Amin mendatang pada saat beliau hendak meninggalkan lokasi acara untuk bertolak kembali ke Jakarta.

Albiner adalah putra terbaik Tapanuli bahkan Sumatera Utara dan beliau juga mempunyai Visi yang banyak kesamaannya dengan Pak Jokowi, jadi maka karena itu beliau sangat layak untuk menjadi pembantu Pak Jokowi di Kabinet mendatang, ujar Ketum GEPENTA tersebut.

Minggu, 18 Agustus 2019

DPD JBMI Labura Ikuti Upacara HUT Kemerdekaan RI ke 74. Ketum JBMI : Ini Patut Dicontoh DPW & DPD maupun DPC Lainnya



JBMI-News : DPD JBMI Labuhanbatu Utara bersama dengan DPC JBMI Kualuh Selatan dan Aek Natas turut mengikuti Upacara HUT RI yang Ke 74 Tahun Dan Pawai Upacara tersebut dilaksanakan di Lapangan Bayangkara Polsek Kualuh Hulu Aek Kanopan, Sabtu 17 Agustus 2019.

Hadir pada Upacara dari JBMI Ketua DPD JBMI Labura Maruli Tanjung, SH,. MH Sekretaris DPD JBMI Labura Darwin Marpaung Wakil Ketua DPD JBMI Labura M. Yamin Simatupang Ketua DPC JBMI Kualuh Selatan Syahrul Azhar Siahaan Ketua DPC JBMI Aek Natas Surtay Abdurasyied Munthe Dan Pengurus dan Anggota Anggota  DPCD Dan DPC.

Hadirnya JBMI pada Upacara tersebut membuktikan bahwa JBMI Cinta terhadap Tanah Air Indonesia dan Menjunjung tinggi Al qur'an Dan Hadist dan UUD 1945 Serta Dalihan Natolu.
Dan juga sebagai bentuk Turut merasakan kegembiraan kemeriahan akan Kermerdekaan Republik Indonesia dari tangan Penjahat yang diraih dengan tetesan Nyawa Darah dan Air Mata. 
JBMI senantiasa Siap mengabdikan diri Untuk Nusa Bangsa Dan Agama tanpa kenal Pamrih.  Bekerja Ikhlas Bekerja Tuntas Bekerja Keras Insyaallah Cita cita Luhur akan tercapai.

Di saat Pawai dengan berjalan kaki JBMI Labura mengeluarkan Yel Yel.  "JBMI ", di Jawab "Allahu Akbar". dijawab "Dalihan,''  Natolu " Batak, " Muslim.  
Yang artinya JBMI senantiasa memperioritaskan kepentingan Agama timbang yang lainnya. Dengan Kalimat Tauhid Allahu Akbar membakar Semangat agar lebih banyak lagi berbuat Kebajikan Untuk  Dunia dan Akhirat. 
Dalihan Natolu adalah," Kultural Budaya Batak Somba Marhula - hula, Manak Marpedan Tubu, Elek Marboru".

Batak Muslim,  Meyakinkan bahwa Batak Itu jugA Ada yang Muslim bahkan masuk nya Islam yang pertama di  Nusantara Indonesia di tanah Batak yakni di Tapteng Barus. 
Usai mengikuti Pawai iring iringan dengan Pasukan Paskibraka. TNI, Polri , Satpol PP BPD. dan Ormas OKP lainnya. Jbmi berkumpul di Simpang Pangsean Seraya menikmati Air Kelapa Dingin dan Bersantap Makan Siang. Setelah melakukan berbagai topik diskusi JBMI membubarkan diri pulang kerumah nya Masing masing. (Ngatimin).

DPP JBMI mengapresiasi DPD JBMI Labura yang tetap eksis dalam ikut serta menghadiri upacara memperingati HUT RI ke 74 bersama Pemkab Labura, ini salah satu contoh yang harus diikuti seluruh DPW maupun DPD JBMI, ujar Ketum JBMI.

Minggu, 11 Agustus 2019

Mengupas Pemikiran Albiner Sitompul : Radikalisme Adalah Gangguan Penyakit Jiwa

 


Jakarta, JBMINews - Radikalisme dan Intoleransi masih menjadi batu sandungan bagi rencana pembangunan jangka menengah nasional pemerintahan Presiden Joko Widodo - KH. Ma'ruf Amin selama 5 tahun kedepan. Isu politik radikalisme masih berkembang, bahkan radikalisme dipolitisasi untuk menyerang Islam. Apakah demikian?

H. Albiner Sitompul S.IP, M.AP, Ketua Umum Jam'iyah Batak Muslim Indonesia (JBMI) merespon hal itu dengan menegaskan bahwa anggapan yang menyebut isu radikalisme sengaja digembar-gemborkan untuk menyerang Islam, adalah salah.

Menurut Albiner, radikalisme adalah gangguan kejiwaan yang penanganannya harus melalui beberapa tahapan terlebih dahulu sebelum diambil tindakan. Albiner tidak sepakat jika orang-orang yang terpapar radikalisme langsung dilakukan penindakan tanpa ada solusi pengobatan terlebih dahulu.

"Kita awali dulu pada waktu lahirnya Islam, zaman jahiliyah. Pada waktu itu, pembunuhan dilegalkan. Lalu lahirlah Nabi (Muhammad SAW) nabi dari suku Quraish melawan kejahiliyahan itu, dan melawan radikalisme itu dengan kekuatan Allah Sabar dan kuat. Kemudian Nabi menerima Wahyu dari Allah SWT yang dihimpun oleh sahabat nabi ketika beliau mangkat, namanya Al Quran." Obat dari segala macam penyakit, ancaman dan lainnya," kata H. Albiner Sitompul di Kantor DPP JBMI, Selasa kemarin (6/7/2019).

Menurut Ketum JBMI, Al Quran adalah peta sosial, yang menerangkan bahwa manusia itu diciptakan bersuku-suku, berbangsa-bangsa tidak lain adalah untuk saling mengenal, sebab, kalau tidak ada saling mengenal, maka dia punya masalah sosial.

"Islam itu adalah Rahmatan Lil alamin, (Jadi) Radikal itu tidak pernah diajarkan di dalam Al-Qur'an." kata Albiner.

Dari peta sosial tadi, menurut Albiner ada berbagai suku bangsa yang harus saling mengenal. Jika tidak mau saling mengenal, maka, yang ada adalah hegemoni. dalam hal ini, manusia sebagai mahluk sosial berubah menjadi fundamentalis. "Manusia sebagai mahluk sosial berartikan dia mempunyai jiwa sosial, ketika jiwa sosialnya ini rusak, maka dia sakit jiwa sosial, bukan sakit jiwa saraf yang tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Penyakit jiwa sosial itu karena dia tidak beriman," kata ALbiner.

Menurut dia, jika dikaitkan dengan kegiatan sosial yang lebih hebat lagi, bahwa dua kalimat sahadat itu adalah sosial dalam kehidupan. Habluminallah dan sosialnya ada di Habluminanas. Demikian juga sholat, Sholat itu adalah kehidupan sosial, Habluminallah, hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia ketika berjamaah. "Nah, jika hubungan manusia dengan manusia kemudian terganggu karena jiwanya, maka manusia itu bisa menjadi radikal," kata Albiner.

Ketua Umum JBMI ini kemudian membagi penanganan radikalisme dengan beberapa tahapan. Deradikalisasi itu harus ditangani dengan beberapa tahapan seperti Pre-entif, Preventif, Kuratif dan Refresif.

Pre-entif

Menurut Albiner, pentingnya deteksi dini perilaku radikalisme melalui pre-entif. Sederhananya, kalau ada seseorang yang melakukan segala sesuatunya serba sendiri-sendiri maka berarti ada gangguan pada sisi sosialnya. "Kenapa orang itu tidak mau berkumpul, berarti ada penyakit jiwa sosialnya, maka dia ada kemungkinan punya jiwa yang radikal." katanya.

Sehingga kalau dikatakan ada satu komunitas islam dengan komunitas islam lain yang saling menuduh, misalnya dia (komunitas atau organisasi islam yang satu) dikatakan baik, yang lain dikatakan buruk, itu bukanlah jiwa sosial. Bahkan sudah menghilangkan jiwa sosial.

"Ketika kita mengatakan orang buruk, Allah mengatakan dalam alquran sebagai jiwa sosial, janganlah engkau menuduh orang buruk, karena orang buruk yang kau tuduh belum tentu lebih buruk dari kau. Kau bisa lebih buruk dia. Maka jangan dituduh orang itu buruk. Melanggar hal-hal yang melanggar kehidupan sosial, maka Allah pun menurunkan surat, saling mengingatkan, saling nasehat menasehati, jangan langsung menjustice." Papar Albiner.

"Nah disinilah fungsi pemerintah, bagaimana kehidupan sosial ini harus disosialisasikan terus. Sikap pre-entif berguna untuk mendeteksi dini kemungkinan perilaku jiwa radikal dalam kehidupan." kata dia.

Dalam paparannyaa, Albiner Sitompul menekankan bahwa yang dapat mensosialisasikan sikap pre-entif adalah Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) yang menyampaikan jiwa sosial itu secara detail bagaimana hidup berbangsa dengan perbedaan-perbedaannya.

Menurut Albiner, kehidupan berbangsa di Indonesia tidak dapat ditangani oleh satu agama, sebab dapat bersinggungan dengan kepentingan agama yang lain. Oleh karena itu, harus ditangani oleh KemKominfo untuk menjembatani bahwa manusia itu makhluk sosial. "Sosial terus. Dari bangun tidur dan tidur kembali, manusia itu dan dia tau adalah makhluk sosial yang menyayangi manusia, menyayangi lingkungan hidup, meyanyangi semuanya. Tidak membuat kerusakan di muka bumi, nah itulah manusia." terang Albiner.

Oleh karena itu, Albiner tidak sependapat jika ada hal-hal yang salah yang terjadi pada seseorang, langsung diambil tindakan. Menurutnya, harus diambil tindakan pengobatan terlebih dahulu sebelum diambil tindakan lainnya.

"Harusnya kita mengobati orang itu dulu, dimana gangguan jiwanya. Itulah perannya Pre-entif, jauh sebelum terjadinya kejadian, seseorang itu sudah mengetahui jika ada kelainan atau jika ada sesuautu yang berbeda terhadap orang lainnya. Hal ini menunjukan bahwa ada kesehatan jiwa sosial tadi yang terganggu sehingga dapat segera ditangani." tandasnya.

Preventif

Paparan radikalisme dapat masuk kesemua sektor kehidupan bersuku bangsa. Sosialisasi pre-entif yang dilakukan Kementerian kominfo, harus dilakukan secara simultan dan terus menerus. Sementara untuk peran Preventif, menurut Albiner, perannya kementerian pendidikan dan kebudayaan.

Pada saat preventif itu disitulah perannya seorang guru. Fokus seorang guru itu melakukan hal-hal preventif. Pendidikan dan kebudayaan itu sebagai dua sisi mata uang yang harus dipadukan. Misalnya, Pendidikan budaya teknologi, budaya modernisasi, budaya ilmu pengetahuan, budaya semua kehidupan, itu adalah budaya yang ditingkatkan dengan teknologi peradaban.

"Tugas guru adalah membimbing manusia untuk menjaga peradaban. Disitulah preventif. Jangan langsung ditangani ulama, guru dulu. Ketika orang diajari untuk mengajari bahwa itu adalah pendidikan dan budaya, nah disini ada sinerginya dengan agama. Amar ma'ruf, karena masing-masing agama punya ketentuan-ketentuan di dalam habluminallah," kata Albiner.

"Pre-entif adalah habluminanas, sementara Preventif adalah habluminallah. Ini harus disampaikan." tandasnya.

Kuratif - Dalihan Na Tolu

Tetapi ketika ada persoalan yang melenceng dari budaya dan agama dalam peradaban, maka pencegahannya melalui kuratif, salah satunya melalui adat istiadat yang melekat dalam kebangsaan di Indonesia. Contohnya adalah budaya Malu atau dalam adat Suku Batak dikenal dengan nama "Dalihan Na Tolu".

"Budaya malu sudah dimiliki oleh bangsa Indonesia sejak nenek moyang dulu. Malu melanggar adat, maka JBMI selalu mendorong pemerintah daerah, di sumatera utara untuk mengangkat Dalihan Na Tolu. Ini sesantinya orang batak, baik dia Islam, Kristen, Hindu atau Budha, dia harus patuh kepada dalihan na tolu kalau dia batak." terang Albiner.

Dalihan Na Tolu esensinya terbagi 3 yaitu: Somba marhula-hula (Tulang), Elek marboru (Boru), dan Manat mardongan tubu (Semarga) yang tentunya memiliki hak dan kewajiban terstruktur dan bersifat tetap. Yang pertama Somba Marhula-hula merupakan istilah pertama yang bermakna bahwa kita harus menghormati hula-hula kita yang merupakan saudara laki-laki dari pihak istri (Saudara laki-laki dari seorang perempuan). Kedua, Elek Marboru yang bermakna kelemah-lembutan dalam bersikap terhadap boru perempuan yang merupakan saudara perempuan kita. Ketiga, Manat Mardongan Tubu yang berarti bahwa kita harus akur terhadap saudara yang semarga dengan kita.

Ketiga istilah dalam Dalihan Na Tolu tersebut melekat pada diri setiap orang Batak. Setiap orang Batak pada suatu waktu akan berposisi sebagai salah satu diantara hula-hula, atau berposisi sebagai boru dan atau berposisi sebagai dongan tubu. Hal itu tergantung sebagai apa posisinya dalam adat pada waktu sebuah pesta adat dilaksanakan.

Setiap orang Batak dalam sebuah pesta/acara adat pasti akan berposisi diantara salah satunya yaitu mungkin akan melakoni sebagai hula-hula, atau boru atau dongan tubu. Dengan adat yang kompleks seperti itu, Tak salah jika orang Batak disebut sebagai sebuah bangsa karena memiliki dan menjujung adat Dalihan Na Tolu yang terkenal hingga keluar negeri. Itulah keindahan adat sekaligus kearifan lokal bangsa Batak yang juga memilki aksara tulisan beserta bendera Batak.

"Pada sisi preventif tadi, jika ada kelainan, maka dikuratif dulu, diobati dulu, jangan langsung dikasih obat tanpa adanya pemeriksaan. Semua harus diperiksa dulu. Maka ini perannya dokter penyakit jiwa. Harus mudah diperoleh masyarakat. Disitu sudah ada dokter kesehatan jiwa. Tidak bisa kita sama ratakan bahwa semua manusia itu sehat. Budaya kesehatan itu diawali dari psikis, jangan sampai kita tidak tau ada jiwa yang radikal tadi. Karena sampai sejauh mana kesehatan jiwa sosialnya itu perlu ada pemeriksaan. Kalau itu gangguan kesehatan jiwanya, Inilah perannya Kementerian Kesehatan. Jangan sampai terjadi nanti sudah ada kejadian korban yang banyak, barulah diambil tindakan." kata Albiner.

"Dari tiga penjelasan saya tadi, itu harus menjadi sebuah sistem pwmbinaan sumber daya manusia." terangnya.

Albiner kembali menjelaskan, bahwa Guru memberikan pendidikan budaya, namun selama masa pendidikan ini, akan ada pengaruh lingkungan yang menganggu. Dan sebesar apa pengaruh lingkungan tentang kejiwaan sosial ini terganggu? Yang tau itu hanyalah psikiater. Dan psikiater itu ada di kementerian kesehatan.

"Banyak orang cerdas, banyak orang pandai, tapi kesehatan jiwanya ini, ya Kemenkes yang memeriksa. Jika sudah ada tanda-tanda jiwa radikalnya, harus diobati dulu." kata Albiner.

Albiner menegaskan, secara khusus, JBMI sudah diperintah presiden Jokowi untuk mensosialisasikan Dalihan Na Tolu. Menurutnya, Dalihan Na Tolu sudah diseminarkan untuk dilihat dari berbagai sudut pandang agama, kesimpulannya, tidak ada yang salah dari dalihan natolu, hingga dijadikan sebagai salah satu kearifan lokal.

Bahkan menurut hasil penelitian LIPI, banyak nilai luhur yang dapat dipetik dari kearifan lokal adat Batak tersebut. Setiap orang Batak akan selalu menjaga keharmonisan baik didalam kekeluargaanya maupun dalam berbangsa. Selain itu dengan tetap tidak lupa adatnya, tidak lupa tarombonya (tutur posisi adatnya) dan tidak lupa siapa dirinya dalam adat.

Represif

Tindakan sejak Pre-entif, Preventif, hingga Kuratif merupakan kerangka dasar dari program deradikalisasi yang menjadi acuan pemerintahan Jokowi periode dua ini. Perencanaan Pembangunan tidak bisa dilepaskan dari pengaruh radikalisme sehingga program deradikalisasi menjadi pemeran utama dari pembangunan yang dicanangkan Jokowi.

Tidak saja radikalisme, namun sikap intoleran dan frustasi turut melandasi lahirnya pemikiran Albiner Sitompul untuk segera membenahi persoalan kebangsaan ini melalui pre-entif, preventif, kuratif dan refresif. Lantas dalam bentuk apakah refresif dapat dijadikan sebuah tindakan agar dapat menuntaskan radikalisme?

Albiner mengatakan, tindakan refresif dapat dilakukan jika tindakan pre-entif, preventif dan kuratif tak mampu menjadi solusi bagi 'pengobatan' radikalisme, baik pada diri sesorang maupun pada golongan atau organisasi yang ada di tengah-tengah masyarakat. Pancasila sudah mengatur sedemikian rupa nilai-nilai yang jika diimplementasikan akan sangat sesuai dengan pemikiran Albiner Sitompul dalam hal pendidikan kebudayaan berbangsa dan bernegara.

Refresif itu adalah penegak hukum, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Kementerian Pertahanan hingga kepolisian, itulah yang menangani. Ketika terjadi sebuah kejadian itulah haknya penegak hukum. Namun begitu, Albiner berharap janganlah sampai terjadi tindakan dari penegak hukum. Harus ada upaya yang terlebih dahulu dilakukan untuk mencegah sifat radikalisme itu lahir.

Kesimpulan

Berikut adalah urutan penanganan deradikalisme sejak dini yang dapat dilakukan oleh Kementerian-kementerian Kabinet kerja Jokowi. Penanganan Pre-entif dilakukan oleh Kementerian Kominfo, Preventif dilakukan oleh Kementerian Pendidikan, Kementerian Agama juga Kementeriann Lainnya, sementara Kuratif dilakukan oleh Kemenkes, Kemensos, juga kementerian lainnya.

"Jika terjadi tindakan kejahatan, barulah dilakukan oleh penegak hukum." tandasnya.

Sosok H. Albiner Sitompul:

Lahir di Sibolga 23 pebuari 1964, Ayahnya seorang Veteran H. Djaronga Sitompul dan ibunya Hj. Boru Panggabean. Menikah dengan seorang dr. Giri Wati Yoga Sara Almamater Universitas Padjadjaran. Dikaruniai 3 orang anak, Abdul Karim kuliah di Fakultas Hukum Universita Andalas, Nur Annisa kuliah di Fakultas Teknik Kimia Universitas Brawijaya, Nur Auliah sekolah di SMP 9 Ciracas, Jakarta Timur Kelas 8.

Setamat SMA Albiner Sitompul kuliah di Fakultas Teknik USU Medan Tahun 1983. Tidak selesai dikarenakan mengikuti Pendidikan Akademi Militer 1984. Mengawali tugas 1988 di Paspampres kemudian 1999 sampai 2001 membantu Presiden ke 3 Pasca Presiden BJ. HABIEBIE. Kemudian menjadi Guru Militer Kavaleri, Komandan Batalion Kavaleri 9 dan 2 kali menjadi Komandan KODIM sampai 2010.

Pernah gagal proses Pilkada Bupati Tapanuli Tengah 2011 melanjutkan tugas sebagai STAF DINAS PENERANGAN Angkatan Darat dan Kepala Penerangan KOSTRAD kemudian Asisten Toriturial Kodam XVII di Papua. 2014 selanjutnya dipromosikan Perwira Tinggi melaksanakan tugas Kepala Biro Pers Media dan Informasi sekertariat Presiden Susilo Bambang Yudoyono hingga Presiden Joko Widodo sampai 2015. Akhirnya menjadi Tenaga Pengkaji Bidang Diplomasi LEMHANAS RI.

Berawal dari permintaan Panitia Munas Jam'iyah Batak Muslim Indonesia (JBMI) 2016 menjadi Ketua Umum DPP JBMI sampai 2021. Kemudian memprakarsai Pembangunan Titik O Peradaban Isiam di Barus dengan harapan menjadi Otorita Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi
Sumatera Utara (Sumut) meliputi Kabupaten Singkil dan Kota Subulussalam Provinsi Nanggroe Aceh Darusalam.


Menyelengarakan beberapa kali Seminar salah satu diantaranya Seminar Nasional Penerapan Dalihan Na Tolu ditinjau dari Pandangan Semua Agama dan Pancasila 2017, kemudian menyelenggarakan Silaturahmi Nasional JBMI dengan semua Tokoh Agama di Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara, 2017 Memprakarsai dibentuknya Desa Wisata Tuan Syekh Ibrahim Sitompul di Janji Nauli, Pahae disetujui Bupati Tapanuli Utara Drs. Nikson Nababan, M.Si. Kemudian memprakarsai masa Tanam Padi serentak seluas 16.000 Hektar dengan menghimbau melaksanakan Syariat Islam hingga Panen Raya bersama 4 bulan kemudian dengan hasil 7 Ton/Hektar, 2018 di Kecamatan Kualuh Hilir, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumut.

Kemudian melaksanakan penelitian bersama terhadap kehidupan Suku Anak Dalam (SAD) di 8 Kabupaten Provinsi Jambi selama 5 minggu yang diakhiri dengan proses pembangunan Pondok Pesantren terpadu khusus SAD, 2019.
Selama mengabdi pernah memperoleh Medali emas Juara Tembak Nasional beregu 1994. Pernah Juara I Karya Tulis Teritorial Tingkat Angkatan Darat dan Mabes TNI 2005, 2006, 2008. Demikian H. Albiner Sitompul S.IP M.AP. **

Tapak Ir. H. Joko Widodo dan Tuan Syekh Ibrahim Sitompul

Ketua DPW JBMI Bengkulu Sukriadi Sitompul bersama Ketua Umum JBMI H. Albiner Sitompul JBMINews : Oleh: H. Albiner Sitompul, S.IP, M....